Gadis di Rinai Hujan

Gadis di Rinai Hujan

By : Selvia Deby

Aku meninggalkanmu karena aku tak sanggup melihatmu meninggalkanku.

Senja yang teduh telah menggelayuti pandanganku. Gerimis bertaburan tertiup angin seakan menari-nari dengan begitu indahnya. Perlahan kabut-kabut senja itu mulai menipis  tergantikan oleh petang yang menjelma kesunyian. Gerimis membawaku pada kenangan akan  seseorang yang sangat aku cintai serta peristiwa memilukan 15 tahun yang lalu. Untuk pertama kalinya aku mendengar pertengkaran kedua orang tuaku. Cerai? Aku tidak mengerti kenapa seseorang begitu mudah mengucapkan kalimat itu. Orang tuaku bercerai diusiaku yang sangat muda. Ibu kandungku meninggalkanku sebatangkara bersama ayahku demi kekasih barunya. Ibuku selingkuh. Bahkan ia juga telah menggadaikan tempat tinggal kami tanpa sepengetahuan ayah.

Namaku Alisa, aku hanyalah anak desa yang sederhana. Menjalani kehidupan yang sangat jauh dari keramaian, membuatku tumbuh menjadi seorang gadis yang pemalu. Aku lahir dari keluarga miskin. Tapi takdir telah merubah kehidupanku. Orang tuaku bercerai di saat aku masih berusia 5 tahun. Saat itu mungkin aku masih terlalu dini untuk memahami kehidupan ini. Mengapa orang tuaku bercerai? Mengapa aku tidak dapat merasakan kasih sayang dari keluarga yang utuh? Hal itu membuatku menangis berkali-kali saat mengingatnya. Perselingkuhan, itulah penyebab perceraian orang tuaku yang sudah ratusan kali aku dengar dari gunjingan tetangga. Aku selalu mendengarnya meskipun sebenarnya aku sudah sangat muak dengan celotehan mereka.

Pagi itu ayah menggendongku, dan membawaku pergi dari rumah kami. Kulihat ayah menangis. Kulirik ibuku yang masih asyik menghisap rokoknya. Aku masih belum mengerti apapun saat itu. Aku juga tidak mengerti bahwa ternyata ayah akan membawaku pergi jauh dari ibu untuk selamanya.

“Ayo ikut ayah Nak..” kata ayah sambil mengelus rambutku.

“Kemana yah..?” tanyaku polos.

“Jalan-jalan” ajak ayah sambil menyunggingkan senyum kecil.

“Horeeeeee….. jalan-jalan!!” sambutku kegirangan.

Aku segera naik ke pangkuan ayah. Ayah menggendongku dan menaikkanku ke atas motornya. Sedangkan ibuku masih menghisap rokoknya. Kemudian ia mulai bicara..

“Sini tak kasih permen Al….” ibu memanggilku.

“Mau !! ” jawabku sambil lari ke pangkuan ibuku.

“Ayo ikut ibu…” katanya lagi.

Nggakmau… aku ikut ayah saja..” jawabku sambil berjalan ke ayah.

“Mulai sekarang jangan pernah muncul didepanku atau menemui anakku lagi!!” bentak ayah kepada ibu.

Sejak itu, aku sadar bahwa aku tidak pernah bertemu dengan ibuku lagi. Setiap hari ayah menghiburku. Membelikanku kue kesukaanku. Kami tidak punya tempat tinggal lagi. Kami mencari tumpangan dari satu tempat ke tempat yang lain. Mulai dari teman-teman ayah, hingga saudara-saudara ayah. Setiap hari sebelum shubuh, saat aku masih tertidur pulas ayah sudah siap  berangkat bekerja, saat ayah bekerja aku pun berangkat sekolah dan bermain. Kemudian ayah selalu pulang tengah malam saat aku sudah tertidur. Begitulah setiap hari, hingga aku tak pernah melihat ayahku. Ayah selalu bekerja siang malam demi membesarkanku, kerja apapun ia lakoni. Semua keinginanku dituruti. Ia bekerja tanpa kenal waktu hingga tak memperdulikan penampilannya lagi. Badannya kurus kering, terlihat lebih tua dari usianya. Ayah hanya tak ingin melihatku sedih atau merengek mencari ibu.

Hingga pada suatu hari, di pagi-pagi buta ayah membangunkanku. Ia memandikanku dengan air hangat.  Kemudian memakaikanku baju.

“Kita mau kemana?” Kataku.

“Ayo tak ajak main kerumah bibimu di Blitar” jawabnya.

Sebenarnya bukan main, tapi lebih tepatnya mencari tumpangan tempat tinggal. Setelah menempuh 2 jam perjalanan dengan motor buntut ayah. Akhirnya sampailah kami di rumah bibiku. Mereka menyambut kedatangan kami dengan sangat hangat. Ayah menceritakan semua yang terjadi kepadanya. Kulihat bibiku menangis sambil mengusap kepalaku. Tidak lama setelah itu, suasana kembali menghangat. Ayah mulai bercanda kembali dengannya. Mereka menceritakan hal-hal lucu tentangku. Aku masih tidak mengerti. Tapi aku sangat senang berada di sana. Setelah beberapa jam berbincang-bincang. Ayah pamit untuk pergi.

“Kamu disini dulu ya.. nanti sore ayah jemput, sekarang ayah mau kerja dulu” katanya sambil tersenyum.

“Iya…” jawabku.

Lalu ia memelukku dan mencium pipiku berkali-kali. Aku merasa ayah sedikit aneh. Setelah itu ayah mulai pergi dengan mengendarai motornya tanpa menoleh kepadaku lagi. Sore harinya, setelah mandi dan ganti pakaian. Aku menunggu ayah di teras rumah. Namun ia tak kunjung datang. Sampai menjelang malam, ayah belum juga datang. Keesokan harinya ayah juga tidak datang. Begitu juga esoknya lagi dan lagi. Hingga aku sadar bahwa ayah tak pernah datang menjemputku lagi. Aku selalu menangis setiap malam mencari ayah, berkeliling dan berputar-putar mencarinya seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Aku berlari ke beranda rumah. Berniat untuk mencari ayah. Namun yang kulihat bukan ayah melainkan pohon-pohon besar dan semak-semak belukar yang sangat tinggi dalam kegelapan. Aku menangis sejadi-jadinya.

“Ayaah…. Ayah mana… mau pulang sama ayah.. gak mau disini… aku mau ayah..” aku menangis sesenggukan.

“Nanti dijemput nak, sekarang ayo tidur dulu…” kata bibiku menenangkan.

“Gakmau nanti.. maunya sekarang..” jawabku lagi

Sejak saat itu aku tak melihat wajah ayahku lagi, aku hanya selalu memandangi semak belukar di teras rumah sambil menunggu ayah selama bertahun-tahun.

* * *

 

Bersama rindu aku membencimu.

Malam bertabur bintang dihiasi dengan kemerlapnya lampu-lampu rumah penduduk dan bulan yang tersenyum padaku menciptakan nuansa kemewahan duniawi. Hanya dengan memandangnya saja mampu  menghilangkan suasana hatiku yang sedang buruk di malam itu. Seperti biasa, aku sedang duduk di teras rumah ditemani angin sepoi-sepoi yang berhembus. Hembusannya mampu menyibakkan rambut panjangku yang tergurai. Dinginnya malam itu telah membekukan hati dan perasaanku. Aku tumbuh menjadi gadis yang pendiam, suka menyendiri, tak ingin mengenal siapapun, atau berbicara dengan siapapun yang tidak perlu. Bibi sudah memanggilku berkali-kali untuk masuk rumah karena cuaca yang sangat dingin. Tapi aku tak menggubrisnya. Entah sudah berapa jam aku merenung di depan rumah. Disinilah terakhir kali aku melihat ayahku. Aku selalu merindukannya.

Ayah.. apa yang sedang kau lakukan sekarang? Bagaimana keadaan ayah? Kuharap ayah selalu sehat. Apa ayah makan dengan baik? Apa batuk-batuk ayah sudah sembuh?

“Kamu gak mau masuk? Diluar dingin.. kamu bisa demam.. “ tanyanya.

“Enggak.. aku masih ingin disini.. “ jawabku sambil tersenyum.

“Pakai ini…!”

Ia memberikanku jaket tebal berbulu. Aku mengenakannya. Terasa hangat sekali.

“Ini sudah sangat malam.. ayo masuk… “ sambungnya.

Aku menatap wajah bibiku. Matanya teduh dan sayu. Suaranya lemah lembut seperti putri Solo. Wajahnya sangat mirip dengan ayahku. Ia merawatku bagaikan anaknya sendiri. Terkadang ia menemaniku duduk di beranda rumah sambil berbincang-bincang sampai berjam-jam.

“Hngg… iya bibi.. aku mulai mengantuk.. hehe” ujarku.

Akupun masuk ke dalam rumah dan bergegas untuk tidur. Hidungku terasa ngilu, aku mulai bersin-bersin karena terlalu lama berada diluar rumah. Sehingga hanya dalam hitungan menit aku sudah tertidur pulas.

Keesokan harinya ketika aku sedang bermain dengan kakak keponakanku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara sepeda motor yang berhenti di depan rumah. Tidak biasanya rumah bibi kedatangan tamu. Namun ketika aku melihat wajah yang muncul dari balik pintu, aku sangat terkejut.

“Ayah. . ayah datang.. bibi ayah datang..!!” teriakku kegirangan.

“Lho.. anakku sudah besar..” kata ayah sambil meraihku ke gendongannya.

“Ayah bohong..!! katanya ayah akan menjemputku, tapi justru ayah meninggalkanku..” aku mulai menangis.

“Maafkan ayah Nak.. ayah kerja.. sekarang ayah sudah datang untuk menjemput kamu.. kita pulang ke rumah ya?.”

Aku mengangguk saja. Ayah berterima kasih banyak kepada bibiku karna sudah merawatku. Siang itu, aku berpisah dengannya. Aku merasa sedih. Tapi ayahku datang. Aku akan tinggal dengannya, karna dia ayahku. Ia membawaku kembali ke kota asalku di Batu dengan mengendarai sepeda motornya. Namun ia tidak membawaku pulang ke rumah.

“Lho ini mau kemana Yah?” tanyaku.

“Ke rumah ibu baru kamu, ayah menikah lagi”

“Aku gak mau, aku takut . ayo kita tinggal dirumah bibi saja.” Aku merengek.

Nggakpapa.. nanti disana kamu banyak temannya, nanti kamu punya saudara baru.”

Ayah memarkir motornya di depan sebuah toko untuk membelikanku kue. Namun kali ini ia membeli banyak sekali.

“Kok banyak banget yah? Buat apa? “ tanyaku.

“Buat saudara-saudara kamu nanti.”

“ Saudara siapa? Mereka siapa? Emang jumlah mereka berapa? “

“Empat, nanti kamu akan tahu. Sudah jangan nakal-nakal ya. Gak boleh nangis. Harus senyum.” Tambahnya.

Setiba di rumah istri baru ayahku. Aku tidak mau masuk. Aku malu. Kupandangi rumahnya. Rumahnya sederhana. Namun jauh lebih baik dari rumah bibiku di Blitar. Dindingnya tembok, bukan bambu. Atapnya juga tidak bocor. Rumahnya tidak terlalu luas dan agak kotor. Ayah menggandengku untuk memasukinya. Banyak jagung berserakan dimana-mana. Rupanya istri ayahku adalah seorang pedagang di pasar. Ia menjual makanan yang terbuat dari jagung.

“Lho Alisa.. sini masuk.. ini rumah ibu.. gak usah malu-malu” kata perempuan itu.

Perempuan itu berbicara padaku seakan ia sudah mengenalku sejak lama. Rupanya ayah sudah banyak bercerita tentangku padanya. Aku duduk di kursi ruang tamunya yang terbuat dari plastik. Kulihat ayah sedang berbincang-bincang dengan perempuan itu. Sedangkan ada tiga anaknya yang kira-kira seusiaku sedang menatapku dengan keheranan sambil menyembunyikan wajahnya di balik pintu, sesekali mereka mengintipku sambil berbisik-bisik. Rupanya mereka inilah yang dimaksud oleh ayah ketika di jalan tadi. Mereka juga yang nantinya menjadi saudara tiriku, dan perempuan itu adalah ibu tiriku. Ia begitu baik padaku pada awalnya. Namun untuk selanjutnya ia begitu jahat dan tanpa ampun. Aku diperlakukan berbeda dengan anak-anaknya sendiri. Aku sering menangis mencari ayah saat ia sedang bekerja dan belum pulang. Lalu ketika melihatku menangis, raut muka perempuan itu akan berubah menjadi merah padam, lalu ia segera menyeretku ke kamar mandi dan mengguyurku dengan air. Sementara saudara-saudaraku akan mengikutinya dan menatapku yang sedang menjerit dan menangis dengan heran. Mengapa aku selalu menangis mencari ayahku? Mungkin itu yang mereka pikirkan.

“Dasar anak lonte.. hidupku sudah sangat susah. Apa kamu mau menambahi beban hidupku? Hah?! Kenapa kamu gak ikut ibumu?! Ayahmu sedang kerja! berhenti menangis.!! Dasar anak nakal! “ bentaknya sambil menyirami air keseluruh tubuhku.

“Ayah,, !! ampun bu.. ayah mana…!!” pekikku sambil menangis.

Namun ia tak berhenti mengguyurku. Menggosokkan sabun ke badanku dengan kasar. Sangat berbeda dengan perlakuan bibiku yang sangat lemah lembut dan sabar. Terkadang aku ingin pulang ke rumah bibiku saat aku sedang sedih, namun ayah selalu melarangku. Katanya rumahku ya disini. Aku harus tinggal disini bersama ayah, perempuan itu, serta saudara-saudara tiriku yang selalu menatapku dengan heran. Bahkan terkadang ibu tiriku juga memarahiku di depan ayah saat aku sedang menangis, namun ayah sama sekali tak membelaku. Cintanya kepada ibu tiriku membuatnya buta. Ia mulai mengabaikanku. Ayah selalu bekerja, dan pulang saat aku sudah tidur. Lalu ketika jam 2 pagi, ia akan bangun untuk membantu ibuku berdagang di pasar. Kemudian pulang di siang hari saat aku sedang bersekolah. Hingga suatu hari aku pernah merengek pada ayah untuk mengajakku ke pasar. Ia melarangku. Namun tanpa banyak bicara ibuku segera menyeretku ke dalam rumah. Aku memberontak untuk keluar, namun ia mendorongku. Aku memegang tepi pintu mencegahnya untuk menguncinya. Namun ia menjepit tanganku di pintu hingga membuatku menangis semakin keras dan membangunkan para tetangga. Ibu tiriku memang sangat benci melihatku menangis.

Saat aku tinggal bersama budheku, ia selalu memandikanku di pagi hari dan mengantarku ke sekolah. Tapi saat aku tinggal bersama ayah, ia tak pernah menghiraukan apa aku mandi? Apa aku sudah sarapan? Apa aku menyisir rambutku? Aku selalu tampil lusuh ke sekolah dengan seragamku yang tak pernah disetrika, terkadang lupa belum dicuci. Rambutku yang kumal. Serta kaos kaki dan sepatuku yang sangat kotor. Hingga sekolah memberiku bantuan seragam dan sembako karena mengira aku anak orang yang kurang mampu. Padahal ayah dan ibu tiriku adalah keluarga yang berkecukupan. Lalu ibu marah-marah dan memintaku untuk mengembalikan bantuan yang diberikan sekolah karena merasa tak dihargai. Aku menurut saja. Sejak saat itu aku mulai mencuci baju-baju, seragam serta sepatuku sendiri. Aku tak bisa mengandalkan ibu tiriku lagi. Waktu itu aku baru menginjak kelas 2 SD. Namun aku harus mulai hidup mandiri. Lazimnya anak seusiaku masih dimanjakan orang tuanya, tapi tidak denganku. Takdir telah mengubah segalanya yang ada padaku.

            Saat ini usiaku 20 tahun. Aku lebih sering menyendiri dan tak pernah berbicara pada keluargaku. Kecuali jika ada hal penting. Aku tidak pernah menangis lagi. Hingga saat aku mendapat tugas dari kampusku untuk melakukan penelitian keluar kota, aku tak pernah kembali ke rumah lagi. Aku kabur dari rumah.

Beberapa tahun kemudian, aku mendapat kabar bahwa ibu tiriku terkena kanker payudara stadium tiga. Aku sempat menjenguknya ke rumah sakit. Entah mengapa aku tiba-tiba menangis saat melihatnya terkulai lemah di sana. Aku hanya bisa berdoa untuk kesembuhannya. Setelah menjalani berbagai terapi dan kemotrapi, kondisi ibuku berangsur membaik. Aku bersyukur. Biar bagaimanapun, dan sejahat apapun ibu tiriku, dia adalah ibuku. Perempuan yang membesarkanku dan menyekolahkanku hingga sekarang. Aku berterima kasih karna aku masih dapat menikmati hidupku yang sekarang. Aku berusaha melupakan masa laluku yang pahit, meskipun sebenarnya aku tak dapat melupakannya.

Hal yang tak kumengerti adalah ketika ibuku menatap kearahku dan melambaikan tangan menunjukku agar aku mendekatinya. Perlahan tubuhku didekatkan ke pelukannya. Ia berbisik kecil di telingaku seolah tak menginginkan orang lain mendengarnya.

“Nak, ajari ibu untuk menyayangi seutuhnya.”

-Tamat

برنامج الاستعراض روايات المترجمة ” الفراشة الزرقاء” و “حكاية الحب” لطلاب الجامعة مولانا مالك إبراهيم مالانج

0716286p-55fa6c9d42afbd1f1234e983

مالانج  – جامعة مولانا مالك ابراهيم الإسلامية الحكومية مالانج – كلية العلوم الإنسانية – شعبة اللغة العربية وادابها عقدت استعراض  الروايات الترجمة “الفراشة الزرقاء” و “حكاية الحب” الذي قد ترجم الطلاب في الشعبة اللغة العربية وأدبها مستوى الثامنة في يوم الأربعاء.

في هذا البرنامج، ودعوا ثلاثة متحدثين الذي يكونوا ممثلين من طلاب في مستوى الثامن الذين شاركوا في ترجمة هذه الروايات. شارك هذا البرنامج معظم الطلاب من الشعبات المتنوعة. فإنه يدل على رغبة الطلاب في القراءة الأعمال الأدبية، وخاصة الروايات. وقد عقد هذا الحدث في غرفة المسرح المنزلي التي تقع في الطبقة الثالثة من كلية العلوم الإنسانية

وقالت عميد كلية العلوم الإنسانية “تجب أن تحال هذه الأنشطة الترجمة الجديدة إلى الشعبات الأخرى، حتى في يوم القادم سيكون الطلاب في هذه الجامعة الطلاب المنتجين في كتابة الأععمال الأدبي”

من ناحية أخرى، إلى جانب ترجمة الرواية، وكما كتب كتابا بعنوان “30 يوما” الذي يتضمن الكتاب مجموعة من القصص القصيرة مكتوبة بالطلاب في الشعبة اللغة العربية و أدبها، خاصة في مستوى الثامن.

Gadis di Rinai Hujan Part IV

-By Selvia Deby-

Malam bertabur bintang dihiasi dengan kemerlapnya lampu-lampu rumah penduduk dan bulan yang tersenyum padaku, begitu indahnya. Hanya dengan memandangnya saja mampu untuk menghilangkan suasana hatiku yang sedang buruk di malam itu. Seperti biasa, aku sedang duduk di beranda rumah ditemani angin sepoi-sepoi yang berhembus. Hembusannya mampu menyibakkan rambut panjangku yang tergurai. Dinginnya malam itu telah membekukan hati dan perasaanku. Aku tumbuh menjadi gadis yang pendiam, suka menyendiri, tak ingin mengenal siapapun, atau berbicara dengan siapapun yang tidak perlu. Budhe sudah memanggilku berkali-kali untuk masuk rumah karena cuaca yang sangat dingin. Tapi aku tak menggubrisnya. Entah sudah berapa jam aku merenung di depan rumah. Disinilah terakhir kali aku melihat ayahku. Aku selalu merindukannya.

Ayah.. apa yang sedang kau lakukan sekarang? Bagaimana keadaan ayah? Kuharap ayah selalu sehat. Apa ayah makan dengan baik? Apa batuk-batuk ayah sudah sembuh?

 

“Kamu gak mau masuk? Diluar dingin.. kamu bisa demam.. “ tanyanya.

“Enggak budhe.. aku masih pengen disini.. “ jawabku sambil tersenyum.

“Pakai ini..”

ia memberikanku jaket tebal berbulu. Aku mengenakannya. Terasa hangat sekali.

“ini sudah sangat malam.. ayo masuk… “ sambungnya.

Aku menatap wajah budheku. Matanya teduh dan sayu. Suaranya lemah lembut seperti putri Solo. Wajahnya sangat mirip dengan ayahku. Ia merawatku bagaikan anaknya sendiri. Terkadang ia menemaniku duduk di beranda rumah sambil berbincang-bincang sampai berjam-jam.

“Hngg… iya budhe.. aku mulai mengantuk.. hehe” ujarku.

Akupun masuk ke dalam rumah dan bergegas untuk tidur. Aku mulai bersin-bersin karena terlalu lama berada diluar rumah. Sehingga hanya dalam hitungan menit aku sudah tertidur pulas.

Keesokan harinya ketika aku sedang bermain dengan kakak keponakanku, tiba-tiba aku mendengar suara sepeda motor yang berhenti di depan rumah. Tidak biasanya rumah budhe kedatangan tamu. Namun ketika aku melihat wajah yang muncul dari balik pintu, aku sangat terkejut.

“Ayah.. ayah datang.. budhe ayah datang..” teriakku kegirangan.

“Lho.. anakku sudah besar..” kata ayah sambil meraihku kegendongannya.

“Ayah bohong.. katanya ayah mau jemput aku tapi aku malah ditinggal..” aku mulai menangis.

“Maafin ayah nak.. ayah kerja.. sekarang aya sudah datang untuk njemput kamu.. kita pulang ke rumah ya..”

Aku mengangguk saja. Ayah berterima kasih banyak kepada budheku karna sudah merawatku. Siang itu, aku berpisah dengannya. Aku merasa sedih. Tapi ayahku datang. Aku akan tinggal dengannya, karna dia ayahku. Ia membawaku kembali ke kota asalku di Batu dengan sepeda motornya. Namun ia tidak membawaku pulang.

“Lho ini mau kemana yah?” tanyaku.

“Ke rumah ibu kamu yang baru, ayah menikah lagi”

“Aku gak mau, aku takut . ayo tinggal dirumah budhe aja.” Aku merengek.

“Nggakpapa.. nanti disana kamu banyak temennya, nanti kamu punya saudara baru.”

Ayah memarkir motornya di depan sebuah toko dan membelikanku kue. Namun kali ini ia membeli banyak sekali.

“Kok banyak banget yah? Buat apa? “ tanyaku.

“Buat saudara-saudara kamu nanti.”

“ Saudara siapa? Mereka siapa? Emang jumlah mereka berapa? “

“Empat, nanti kamu akan tau. jangan nakal-nakal ya. Gak boleh nangis. Harus senyum.” Tambahnya.

Setiba di rumah istri baru ayahku. Aku tidak mau masuk. Aku malu. Kupandangi rumahnya. Rumahnya sederhana. Namun jauh lebih baik dari rumah budheku di Blitar. Dindingnya tembok, bukan bambu. Atapnya juga tidak bocor. Rumahnya tidak terlalu luas dan agak kotor. Ayah menggandengku untuk memasukinya. Banyak jagung berserakan dimana-mana. Rupanya istri ayahku adalah seorang pedagang di pasar. Ia menjual makanan yang terbuat dari jagung.

“Lho Alisa.. sini masuk.. ini rumah ibu.. gak usah malu-malu” kata perempuan itu.

Perempuan itu berbicara padaku seakan ia sudah mengenalku sejak lama. Rupanya ayah sudah banyak bercerita tentang aku padanya. Aku duduk di kursi ruang tamunya yang terbuat dari plastik, namun sangat kuat. Kulihat ayah sedang berbincang-bincang dengan perempuan itu. Sedangkan ada tiga anaknya yang kira-kira seusiaku sedang menatapku dengan heran sambil menyembunyikan wajahnya dibalik pintu, sesekali mereka mengintipku sambil berbisik-bisik. Rupanya mereka inilah yang dimaksud oleh ayah ketika di jalan tadi. Mereka juga yang nantinya menjadi saudara tiriku, dan perempuan itu adalah ibu tiriku. Ia begitu baik padaku pada awalnya, namun untuk selanjutnya ia begitu jahat dan tanpa ampun. Aku diperlakukan berbeda dengan anak-anaknya sendiri. Aku sering menangis mencari ayah saat ayah sedang kerja dan belum pulang. Lalu ketika melihatku menangis, raut muka perempuan itu akan berubah menjadi merah padam, lalu ia segera menyeretku ke kamar mandi dan mengguyurku dengan air. Sementara saudara-saudaraku akan mengikutinya dan menatapku yang sedang menjerit dan menangis dengan heran. Mengapa aku selalu menangis mencari ayahku? Mungkin itu yang mereka pikirkan.

“Dasar anak lonte.. hidupku sudah sangat susah. Apa kamu mau menambahi beban hidupku? Kenapa kamu gak ikut ibumu? Ayahmu sedang kerja berhenti menangis.!! Dasar anak nakal! “ bentaknya sambil menyirami air keseluruh tubuhku.

“Ayah,, ampun bu.. ayah mana…” pekikku sambil menangis.

Namun ia tak berhenti mengguyurku. Menggosokkan sabun ke badanku dengan kasar. Sangat berbeda dengan perlakuan budheku yang sangat lemah lembut dan sabar. Terkadang aku ingin pulang ke rumah budheku saat aku sedang sedih, namun ayah selalu melarangku. Katanya rumahku ya disini. Aku harus tinggal disini bersama ayah, perempuan itu dan saudara-saudara tiriku yang selalu menatapku dengan heran. Bahkan terkadang ibu tiriku juga memarahiku di depan ayah saat aku sedang menangis, namun ayah sama sekali tak membelaku. Cintanya kepada ibu tiriku membuatnya buta. Ia mulai mengabaikanku. Ayah selalu bekerja, dan pulang saat aku sudah tidur. Lalu ketika jam 2 pagi, ia akan bangun untuk membantu ibuku berdagang di pasar. lalu pulang di siang hari.

Saat aku tinggal bersama budheku, ia selalu memandikanku di pagi hari dan mengantarku ke sekolah. Tapi saat aku tinggal bersama ayah, ia tak pernah menghiraukan apa aku mandi? Apa aku sudah sarapan? Apa aku menyisir rambutku? Aku selalu tampil lusuh ke sekolah dengan seragamku yang tak pernah disetrika, terkadang lupa belum dicuci. Rambutku yang kumal. Serta kaos kaki dan sepatuku yang sangat kotor. Hingga sekolah memberiku bantuan seragam dan sembako karena mengira aku anak orang yang kurang mampu. Padahal ayah dan ibu tiriku adalah keluarga yang berkecukupan. Lalu ibu marah-marah dan memintaku untuk mengembalikan bantuan yang diberikan sekolah karena merasa tak dihargai. Aku menurut saja. Sejak saat itu aku mulai mencuci baju-baju , seragam dan sepatuku sendiri. Aku tak bisa mengandalkan ibu tiriku lagi. Waktu itu aku baru menginjak kelas 2 SD, namun aku harus mulai hidup mandiri. Biasanya anak seusiaku masih dimanjakan orang tuanya, tapi itu tidak terjadi padaku. Takdir telah merubah segalanya yang ada padaku.

—Bersambung—

Gadis di Rinai Hujan Part III

  • -By Selvia Deby-

Dialah seseorang yang selalu ingin kulihat. Namun ketika pandanganku beradu dengannya, mataku selalu berpaling. Aah…… benar-benar bodoh. Aku bahkan tak bisa mendekat selangkahpun saat ada disampingnya… orang yang kucintai..

—Flashback—

Senja yang teduh telah menggelayuti pandanganku. Gerimis bertaburan tertiup angin seakan menari-nari dengan begitu indahnya. namun sore ini, suasana hatiku sedang muram. Gerimis mengingatkanku tentang seseorang yang aku cintai serta peristiwa memilukan 16 tahun yang lalu… untuk pertama kalinya aku mendengar pertengkaran kedua orang tua kandungku. Cerai? Aku tidak mengerti kenapa seseorang mudah mengucapkan kalimat itu. Orang tuaku bercerai diusiaku yang sangat muda. Ibu kandungku meninggalkan aku dan ayahku demi kekasih barunya. Ibuku selingkuh. Bahkan ia juga telah menggadaikan tempat tinggal kami tanpa sepengetahuan ayah.

Pagi itu ayah menggendongku, dan membawaku pergi dari rumah itu. Kulihat ayah menangis. Kulirik ibuku yang sedang menghisap rokoknya. Aku masih belum mengerti apapun saat itu. Aku juga tidak mengerti bahwa ternyata ayah akan membawaku pergi jauh dari ibu untuk selamanya.

“Ayo ikut ayah nduk..” kata ayah sambil mengusap rambutku.

“Kemana yah..?” tanyaku polos.

“Jalan-jalan” ajak ayah sambil menyunggingkan senyum kecil.

“Horeeeeee….. jalan-jalan” teriakku kegirangan.

Aku segera naik ke pangkuan ayah. Ayah menggendongku dan menaikkanku keatas motornya.

Ibukku masih menghisap rokoknya. Lalu memanggilku.

“sini tak kasih permen Al….” ibu memanggilku.

“mau mau mau” jawabku sambil lari kearah pelukan ibuku.

“ayo ikut ibu…” katanya lagi.

“gakmau… aku ikut ayah aja..” jawabku sambil berjalan ke ayah.

“Mulai sekarang jangan pernah muncul didepanku atau menemui anakku lagi!” bentak ayah kepada ibu.

Sejak itu, aku sadar bahwa aku tidak pernah bertemu dengan ibuku lagi. Setiap hari ayah menghiburku. Membelikanku kue kesukaanku. Kami tidak punya tempat tinggal lagi. Kami numpang dari tempat satu ke tempat yang lain. Mulai dari teman-teman ayah, hingga saudara-saudara ayah. Setiap hari sebelum shubuh , saat aku masih tertidur pulas ayah sudah sudah berangkat bekerja, saat ayah bekerja akupun berangkat sekolah dan bermain. Dan ayah selalu pulang tengah malam saat aku sudah tertidur. Begitulah setiap hari, hingga aku tak pernah melihat ayahku. Ayah selalu bekerja siang malam demi membesarkanku, kerja apapun ia lakoni. Semua keinginanku dituruti. Ayah hanya tak ingin melihatku sedih atau merengek mencari ibu.

Suatu hari, di pagi-pagi buta ayah membangunkanku. Ia memandikanku dengan air hangat. Memakaikanku baju.

“Mau kemana?” Kataku.

“ayo tak ajak main kerumah budhe di Blitar” jawabnya.

Sebenarnya bukan main, tapi lebih tepatnya mencari tumpangan tempat tinggal. Setelah menempuh 2 jam perjalanan dengan montor buntut ayah. Akhirnya sampailah kami dirumah budheku di Blitar. Mereka menyambutku dan ayahku dengan sangat hangat. Ayah menceritakan semua yang terjadi kepadaku budheku. Kulihat budheku menangis sambil mengusap kepalaku. Tidak lama setelah itu, suasana menghangat kembali. Ayah mulai bercanda kembali dengannya. Mereka menceritakan hal-hal lucu tentang aku. Aku masih tidak mengerti. Tapi aku sangat senang berada disana. Setelah beberapa jam berbincang bincang. Ayah pamit untuk pergi.

“Kamu disini dulu ya.. nanti sore ayah jemput, sekarang ayah mau kerja dulu” katanya sambil tersenyum.

“Iya…” jawabku.

Lalu ia memelukku dan mencium pipiku berkali-kali. Aku merasa ayah sedikit aneh. Setelah itu ayah mulai pergi dengan mengendarai motornya tanpa menoleh kepadaku lagi. Sore harinya, setelah mandi dan ganti pakaian. Aku menunggu ayah di beranda rumah. Namun ia tak kunjung datang. Sampai menjelang malam, ayah belum juga datang. Keesokan harinya ayah juga tidak datang. Begitu juga esoknya lagi dan lagi. Hingga aku sadar bahwa ayah tak pernah datang menjemputku lagi. Aku selalu menangis setiap malam mencari ayah, berkeliling dan berputar-putar mencarinya seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Aku berlari ke beranda. Berniat untuk mencari ayah. Namun yang kulihat bukan ayah melainkan pohon-pohon besar dan semak-semak belukar yang sangat tinggi dalam kegelapan. Aku menangis sejadi-jadinya..

“Ayaah…. Ayah mana… mau pulang sama ayah.. gakmau disini… aku mau ayah..” aku menagis sesenggukan.

“Nanti dijemput nak, sekarang ayo tidur dulu…” kata budheku sambil menenangkanku.

“Gakmau nanti.. maunya sekarang..” jawabku lagi

Sejak saat itu aku tak melihat wajah ayahku lagi, aku hanya selalu memandangi semak belukar di beranda rumah sambil menunggu ayah selama bertahun-tahun.

—–Bersambung—

Gadis di Rinai Hujan Part II

Sebenarnya aku sudah muak melihat ulah kakakku yang selalu males-malesan dan menghabiskan waktu untuk berjam-jam di depan androidnya, tapi daripada mengajaknya bertengkar aku lebih memilih untuk diam sambil mengusap dadaku menahan kesabaran.

Hari ini, lagi-lagi ia membuat ulah di pagi hari, ketika aku sibuk dengan mencuci piring dan menanak nasi, tiba-tiba ia mematikan air kran yang kupergunakan untuk mencuci dan mengalirkannya ke kamar mandi untuk ia gunakan mandi. Untuk yang kesekian kalinya dia bangun kesiangan dan hampir terlambat untuk pergi ke kampus. Maklum, dirumah kami listriknya hanya 450 watt, sehingga tidak mampu untuk digunakan bersama-sama. Sedangkan aku juga sedang terburu-buru menyelesaikan pekerjaanku agar tidak terlambat datang ke sekolah.

“Mbak airnya masih tak pake nyuci iloo.. aku juga buru-buru mau ke sekolah!!” kataku jengkel.

“Bentar bentar.. cerewet banget sih!!” sahutnya.

“Tapi aku buru-buru!!” bentakku tak sabar.

Dia mengabaikanku dan mengunci pintu kamar mandi lalu mandi. Aku benar-benar emosi. Aku mencoba sabar dan melanjutkan menyapu lantai agar pekerjaanku sedikit berkurang. Setengah jam kemudian ia keluar dari kamar mandi. Lalu aku melanjutkan mencuci piring. Tak lama setelah itu tiba-tiba ibu dan ayahku pulang dari pasar. Melihatku yang tengah mencuci setumpuk piring, nasi yang kutanak masih belum matang, serta keadaan dapur yang sangat mengenaskan, kotor banget. Belum sempat meletakkan tasnya ibu sudah berteriak kepadaku. Dan aku harus mendengar omelannya di pagi hari.

“Perawan males, tiap hari kesiangan terus. Ibuk udah bilang bangun itu yang pagi!! Lihat si sulis anak tetangga sebelah, pagi-pagi udah nyapu halaman, udah masak buat orang tuanya, kamu itu anak apa!! Gak tau diri. Udah disekolahin mahal-mahal gak ada terimakasihnya sama orang tua!! Kalo gak mau susah gak usah sekolah!!” bentaknya.

Ia membentakku tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskannya. Aku hanya diam sambil melanjutkan cucianku. Tanpa sadar air mataku mulai meleleh, aku segera mengusapnya. takkan kubiarkan orang lain melihatnya. Dadaku sesak. Tenggorokanku seperti tercekik. Rasanya seluruh air mataku berhenti di tenggorokan hingga membuatkan tak mampu untuk berkata-kata lagi.

“Kalo diajak ngomong itu dijawab!!” tambahnya.

“Enggeh buk..” jawabku.

Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari bibirku, sedangan sisanya kupendam dalam-dalam dilubuk hatiku. Kulirik jam didinding, sudah pukul 06.30..

“15 menit lagi…” Batinku.

Kulihat kakakku sudah berdandan rapi, memakai sepatu hak tingginya, dan siap untuk berangkat kuliah. Sedangkan aku masih berpakaian lusuh dengan bau sabun coleh dimana-mana. Usai mencuci, aku mengunci diriku di kamar mandi, melepas pakaianku dan mulai mandi. Kunyalakan air kran yang keras-keras, air kran dirumahku sangat deras, saking derasnya suara tangisanku takkan terdengar hingga luar kamar mandi. Aku menangis.

Setelah mandi dan mengenakan seragam SMA-ku, aku berangkat ke sekolah dengan diantar ayah hingga gerbang. Kulihat gerbang sekolah sudah dikunci. Aku terlambat lagi. Aku berteriak meminta satpam untuk membukakanku pintu, ia membukanya. Aku masuk. Namun segerombolan guru yang sedang piket pada hari itu sudah mencegahku dan memarahiku karena telat. Mereka mungkin sudah sangat hafal denganku. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari aku terlambat. Dan hari ini, aku harus berdiri ditengah lapangan selama satu jam dengan siswa lain yang terlambat untuk dihukum. Benar-benar sial.

Tettttt…teeetttttt…teeettttt… bel sekolah bordering. Tanda jam istirahat. Aku segera berlari kekantin dengan kawan-kawanku karena cacing-cacing di perutku sudah paduan suara merdu. Namun karena sibuk berlari cepat, tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang sudah lama ingin kulihat. Dia adalah…….

 

—-Bersambung———

Gadis di Rinai Hujan Part I

Aku benar-benar mencintainya.. aku hanya ingin melihatnya bahagia.

Hembusan angin sore menerpa wajahku, seakan ia sedang membelai lembut wajahku. Ia menyadarkanku dari lamunan panjang meratapi hidupku yang penuh badai. Benar, badai itu telah menghancurkanku dan keluargaku. Dan membuatku mengingat peristiwa pedih beberapa tahun yang lalu.

Namaku Alisa, aku adalah seorang anak desa yang sederhana. Kehidupan di desa yang sangat jauh dari keramaian membuatku tumbuh menjadi seorang gadis yang pemalu. Aku lahir dari keluarga miskin. Tapi takdir telah merubah kehidupanku. Orang tuaku bercerai disaat aku masih berusia 5 tahun. Saat itu mungkin aku masih terlalu muda untuk memahami kehidupan ini. Mengapa orang tuaku bercerai? Mengapa aku tidak dapat merasakan kasih sayang dari keluarga yang utuh? Hal itu membuatku menangis berkali-kali saat mengingatnya. Perselingkungkan, itulah penyebab perceraian orang tuaku yang sudah ratusan kali aku dengar dari gunjingan tetangga. Aku selalu mendengarnya meskipun sebenarnya aku sudah muak dengan gunjingan mereka.

“Al.. bangun.. ayo bantu mengemas dagangan..”  suara ayahku sayu-sayu terdengar dari balik pintu kamarku.

“Iya..” jawabku dengan suara serak menahan kantuk.

Aku membuka mataku dan memandang kearah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul setengah dua pagi. Aku bergegas kedapur dan membantu ayahku mengemas dagangan. Ayah dan ibuku adalah seorang pedangang di pasar pagi. Setiap hari kami harus bangun di pagi-pagi buta untuk berdagang di pasar. Aku hanya sesekali ikut berdagang ke pasar membantu orang tuaku, hanya saat ibuku sakit. Ibuku mengidap tumor stadium tiga, sehingga membuatnya harus kehilangan salah satu payudaranya saat operasi. Serta menjalani berbagai terapi dan kemoterapi berkali-kali. Sebenarnya dia adalah ibu tiriku yang selama ini sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Sedang ibu kandungku.. entah dimana ia sekarang.

Usai membantu ayah, aku pergi kedapur dan membuatkan kopi dan teh untuk ayah dan ibuku. Sudah menjadi kebiasaanku setiap pagi. Aku melirik ke kamar kakakku yang sedang tertidur pulas, begitu juga adikku yang sekarang duduk di bangku kelas 6 SD. Setelah meminumnya kopi orangtuaku pergi kepasar untuk berdagang. Sebenarnya aku merasa tidak tega dengan ibuku, aku ingin sekali membantunya. Tapi ia selalu memintaku untuk menjaga rumah dan adikku daripada membantunya untuk berdagang. Hal ini karena aku masih belum lihai dan lincah untuk melayani para pelanggan ibu di pasar yang jumlahnya ratusan. Dan ia lebih senang meminta tolong kakakku untuk membantunya di pasar. Tapi ia justru sedang asyik dengan tidurnya. Dasar malas.

—- Bersambung—–

Tanpa kata..

Seharusnya aku lari..
Seharusnya aku tak bermain-main seolah tak mendengarnya..
Seharusnya aku tak mendengar cinta..
Tanpa kata kau biarkan aku mengerti cinta..
Tanpa kata kau memberiku cinta..
Kau membuatku menahan nafas tapi kau lari seperti ini..
Tanpa kata cinta ini meninggalkanku..
Tanpa kata cinta ini membuangku..
Apa yang harus kukatakan selanjutnya?
Kau datang tanpa kata..

– Tanpa Kata-